Headlines News :
Home » » Jangan Pernah Melupakan Kebaikan Orang Padamu

Jangan Pernah Melupakan Kebaikan Orang Padamu

Written By Ayok dicoba on Monday, November 14, 2016 | 9:20 PM

3 Kisah: Jangan Pernah Melupakan Kebaikan Orang Padamu





Di era yang serba tidak menentu dan selalu berubah ini, sering-seringlah perhatikan teman-teman sekitar, lebih memahami, janga terlalu perhitungan, belajar bersyukur, dan jangan melupakan teman-teman atau orang-orang yang baik dan tulus kepadamu. Berikut adalah 3 kisah kisah tentang kebaikan.
Kisah pertama
Suatu ketika, saat memasuki musim panas yang terik menyengat, sekelompok remaja tampak terapung-apung di lautan, sandal seorang remaja putri terlepas dan tenggelam di dasar laut. Saat tiba di pinggir pantai, tampak kerikil-kerikil yang panas terbakar matahari, sementara mereka harus berjalan cukup jauh tanpa alas kaki. Lalu, remaja itu pun mencari bantuan orang lain, tapi kali ini tidak ada yang membantunya, dan seketika ia merasa orang-orang itu jahat, tidak peduli dengannya. Belakangan, tampak seorang pria memberikan sandalnya pada remaja itu, sembari berkata kepadanya : Memang sudah sepantasnya tidak ada yang membantumu.
Terkadang, setelah terbiasa dengan orang-orang yang baik kepada kita, lantas dengan serta merta kita pun menganggap bahwa hal itu memang sudah sewajarnya, namun, sebaliknya kita lalu merasa kesal jika suatu hari mereka tidak baik (cuek- tidak peduli) terhadap kita. Sebenarnya, bukan orang lain yang tidak baik, tapi tuntutan kita yang bertambah banyak, karena sudah terbiasa mendapatkan, jadi lupa bersyukur.


Kisah kedua
Pada suatu malam, seekor domba tampak bermain sendirian di lereng bukit. Tiba-tiba seekor srigala melompat dari balik pohon, bermaksud memangsa domba, sementara sang domba meloncat terkejut dan berusaha melawan, sambil mengembek (berteriak) minta tolong kepada teman-temannya. Sapi yang tampak berada di hutan memandang sejenak lalu lari begitu melihat srigala, begitu juga dengan kuda yang menundukkan kepalanya melihat serigala, lalu lari dengan cepat, sementara keledai menghentikan langkahnya, dan melihat srigala, lalu diam-diam menyelinap menuruni bukit, sedangkan babi yang lewat disitu, langsung lari terbirit-birit menuju lereng bukit, demikian juga dengan kelinci yang lari secepat panah begitu mendengar lolongan srigala. Sementara itu, anjing di bawah bukit yang mendengar raungan domba, lalu bergegas menuju bukit, kemudian menyergap dari rerumputan dan menggigit leher srigala, sang srigala pun melolong kesakitan lalu melarikan diri ketika sang anjing menarik napas sejenak.
Sang domba pulang dengan selamat ke pondoknya, sementara teman-temannya juga telah berkerumun di sana.
Sapi berkata : Kenapa kamu tidak memberitahu saya ? Tanduk saya bisa mencungkil usus serigala.
Kuda berkata : Mengapa kamu tidak memberitahu saya ? Kuku saya bisa meremukkan kepala serigala.
Keledai pun tidak mau kalah lalu berkata : Kenapa kamu tidak memberitahu saya ? Begitu aku meraung, bisa membuat ciut nyali serigala.
Mendengar itu, babi juga tidak mau ketinggalan, lalu berkata : Kenapa kamu tidak memberitahu saya ? Saya sruduk dengan moncong saya, srigala itu langsung terpelanting ke bawah bukit.
Sementara itu, Kelinci juga berkata : Kenapa kamu tidak memberitahu saya? Saya bisa lari secepat panah, memberi tahu kepada teman-teman lain.
Di antara sekerumunan teman-teman yang hiruk pikuk di pondok domba, hanya anjing yang tidak tampak batang hidungnya. Persahabatan sejati bukan hanya manis di bibir, tapi tangan yang menarikmu saat kritis (sosok orang yang mengulurkan tangannya di saat genting), teman-teman atau orang-orang yang sepanjang hari berada di sekitar Anda, dan membawakan sukacita kepadamu meski kecil sekalipun selama itu tulus ikhlas.


Kisah ketiga
Sebuah cerita setengah-teman : Alkisah dahulu kala ada seorang pendekar ksatria yang bergaul luas dengan para pendekar sejati seantero negeri. Menjelang ajalnya, ia sempat bercerita kepada putranya, jangan lihat ayah melanglang buana sedari kecil, orang-orang yang bersahabat dengan ayah itu seperti ikan yang lewat. Sebenarnya, seumur hidup ini, ayah hanya bersahabat dengan satu setengah teman. Mendengar itu, putranya tampak mengernyitkan dahi, heran dan bingung.
Sang ayah tampak berbisik seperti hendak berpesan kepada putranya, lalu berkata kepadanya, kamu temui satu setengah teman ayah itu seperti yang ayah sampaikan, kamu akan paham dengan sendirinya nanti akan arti seorang sahabat.
Putranya lalu menemui “sesosok teman” yang benar-benar dipercaya ayahnya, lalu ia berkata kepada teman ayah : “Saya putranya si anu, sekarang sedang diburu pihak kerajaan, saya minta perlindungan sejenak karena terdesak, mohon pertolongannya!”
Mendengar itu, tanpa pikir panjang lagi, teman ayahnya itu lalu segera memanggil putranya, dan memerintahkan anaknya segera melepas pakaiannya, kemudian dipakaikan ke “buronan kerajaan” yang tidak dikenalnya, sementara anaknya sendiri mengenakan pakaian sang “buronan kerajaan.”
Akhirnya anaknya mengerti dengan perkataan ayahnya : Saat dalam keadaaan genting, orang yang tulus dan setia bahkan bersedia mengorbankna hidup mati putranya sendiri demi menyelamatkamu itu dapat disebut sebagai sesosok sahabat sejatimu.
Setelah itu, putranya menemui “setengah teman” seperti yang diceritakan ayahnya, kemudian menceritakan lagi hal yang sama kepada “setengah teman” ayahnya itu.
Setelah mendengar dengan seksama, “setengah teman” ayahnya ini lalu berkata kepada “buronan kerajaan” yang memohon bantuannya : “Nak, ini masalah serius, saya tidak bisa membantumu, kamu ambillah uang ini, dan cepat pergi menyelamatkan dirimu, saya jamin tidak akan melaporkannya…..”
Mendengar itu, akhirnya putranya memahami : “Saat kamu susah, orang yang bisa melindungi dirinya dengan bijak, tidak mencelakakan kamu yang sudah tertimpa kesusahan itu juga bisa disebut sebagai “setengah temanmu.”
Menjelang ajalnya, ayah itu menasihati, tidak hanya membuat putranya, tapi kita juga memahami akan sebuah kebenaran dalam persahabatan : Kamu boleh bergaul secara luas dengan teman-teman, dan tidak ada jeleknya memperlakukan dengan baik dan sepenuh hati terhadap teman-temanmu, tetapi jangan menuntut temanmu itu membalas dengan budi (kebaikan) yang sama sepertimu.
Memperlakukan teman dengan tulus dan baik itu adalah sesuatu yang murni menggembirakan. Jika menuntut balasan, maka kegembiraan itu pun berkurang drastis, dan kekecewaan juga akan mengendap bersamaan dengan itu. Bagaimanapun, perlakuan baikmu kepada orang lain dengan orang lain yang memperlakukanmu dengan baik adalah dua hal yang berbeda, sama seperti memberi dan diberi adalah dua hal yang tidak sama, kebaikanmu hanya akan dapat menulari atau menawarkan kejahatan orang lain, tapi jangan berharap menyembuhkan sampai ke akar-akarnya.
Tentu saja, ada kalanya kamu juga akan bertemu dengan orang yang memperlakukanmu dengan baik seperti dirimu, dan kamu seharusnya bersyukur karena itu adalah keberuntunganmu, tetapi jangan sepenuhnya yakin bahwa itu sudah seyogyanya, karena hanya ada satu setengah teman.
Teman yang tidak pernah meninggalkan dalam hidup kita, yang bisa berjalan satu tahun itu tidaklah bisa bertahan dua tahun itu harus dihargai, bisa saling mempertahankan selama 3 tahun itu adalah keajaiban, dan teman yang bisa bertahan lima tahun itu barulah teman sehati, dan yang masih tetap bertahan selama 10 tahun itu sewajarnya sudah meresap ke dalam sukma, selalu ada tidak pernah meninggalkan selama 20 tahun itu adalah kerabatmu sesudah lahir.


Disalin dari fanspage Idoaku Nabi Muhammad SAW
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ayokdicoba.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger