Headlines News :
Home » » Metode Berdakwah Untuk Mengajak Non-Muslim Masuk Islam

Metode Berdakwah Untuk Mengajak Non-Muslim Masuk Islam

Written By Ayok dicoba on Sunday, November 13, 2016 | 10:02 PM


Metode Berdakwah Untuk Mengajak Non-Muslim Masuk Islam




Dakwah, menyampaikan pesan Islam kepada non-Muslim, adalah kewajiban umat Islam. Allah SWT memerintahkan dan menuntun kita dalam Al Qur'an untuk melakukan dakwah (dengan aturan-aturan tertentu):

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. 16:125)
Empat kata kunci yang harus digarisbawahi dalam ayat ini adalah "serulah", "manusia", "pelajaran yang baik", dan "cara yang baik". Banyak pendakwah dan organisasi Islam di seluruh dunia menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah mereka berdasarkan ayat ini.
Bagi mereka, mengundang seseorang untuk masuk Islam berarti dengan lembut mengajak, peduli, santun, dan sebagainya. Sebagai contoh, kita tidak bisa “mengundang” seorang non-Muslim untuk memahami tentang Islam, atau belajar Islam, atau membuat dia tertarik kepada Islam, dengan memanggilnya kafir, manusia najis, atau nama-nama buruk lainnya. Rasulullah s.a.w bahkan tidak membolehkan para penyembah berhala (yang bukan saja menentang ajaran Rasulullah, tapi juga melemparinya dengan kotoran unta, mengasingkan umat Muslim selama tiga tahun dan membunuh sahabat-sahabat terdekatnya, dan sebagainya) dicela dalam sebuah puisi bernada sarkasme oleh Hassan bin Tsabit yang mengatakan “Bagaimana kalau sebenarnya aku bersaudara dengan mereka?” (H.R. Bukhari, dari Aisyah)


Kita harus mengikuti sunnah Rasulullah s.a.w dengan tidak menghina orang lain. Dengan begitu, kita harus memiliki akhlaq yang baik, seperti yang diajarkan oleh Islam, dan dengan demikian menjadi penyeru-penyeru Islam yang terbaik, dan begitulah seharusnya sifat para da’i sejati. Seorang Muslim yang membuat nama Islam menjadi buruk dengan berperilaku ekstrim, keras, emosinya tinggi, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berpikiran sempit, dogmatis, dan hal-hal lain yang tidak diajarkan dalam Islam, hanya akan membuat pekerjaan para da’i menjadi lebih sulit. Orang-orang seperti itu hanya membuat nama Islam semakin buruk di zaman sekarang, dimana banyak orang yang berpandangan negatif terhadap Islam.

Kita juga harus mengingat perintah dari Allah kepada Nabi Musa a.s dan Harun a.s:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Qur'an 20:43 -44)

Bahkan kepada Fir’aun, yang telah membunuh banyak orang tak bersalah dengan merebusnya dalam ketel minyak yang mendidih, yang telah mengaku dirinya sebagai tuhan, kita harus berbicara dengan lemah-lembut, apalagi kepada orang-orang yang lebih baik daripadanya.
Kata penting berikutnya adalah “manusia.” Ini berarti SEMUA MANUSIA, tanpa terkecuali. Setiap non-Muslim adalah calon muallaf yang bisa mendapatkan hidayah meskipun mereka sangat anti-Islam atau berperangai buruk. Ingatlah bahwa Umar bin Khattab r.a dan Khalid bin Walid r.a, sebelum mereka berdua masuk Islam adalah orang yang sangat anti-Islam. Seorang Muslim tidak boleh terlalu memilih-milih kepada siapa dia berinteraksi. Setidaknya ada tiga alasan untuk hal ini:

1. Lebih baik bagi kita untuk menjelaskan Islam kepada siapapun, meskipun sikap mereka memusuhi, sinis, dan kritis, daripada membiarkan mereka belajar sendiri dan ternyata belajar dari sumber yang salah, atau lebih buruk lagi, belajar dari website-website anti-Islam, dsb. Dengan berdakwah, setidaknya kita bisa mengenalkan ajaran Islam yang sebenarnya kepada mereka

2. Tujuan berdakwah bukanlah untuk menjadikan non-Muslim masuk Islam, melainkan untuk menyampaikan pesan Islam kepada mereka dengan cara terbaik yang kita bisa, dan hal itu berarti “dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” Penerimaan atau penolakan mereka terhadap Islam terserah kepada mereka. Kesuksesan dari dakwah tidak berada di tangan kita. Hanya Allah yang punya kekuatan memberikan hidayah (petunjuk) kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, bahkan Nabi Muhammad s.a.w pun tidak punya kekuatan untuk hal itu. Ingatlah bahkan Nabi Muhammad s.a.w  tidak bisa mengislamkan Abu Thalib, pamannya sendiri,.

3. Seorang Muslim yang pernah mencoba untuk mendapatkan perhatian dari non-Muslim tentu pernah mengalami kesulitan dalam berdakwah. Tentu saja berdakwah kepada non-Muslim tidak semudah berdakwah kepada Muslim yang taat, misalnya mereka yang sering pergi ke masjid, menghadiri ceramah Islam, seminar, program dakwah, dsb, dan mereka yang sudah tertarik kepada Islam.

semoga bermanfaat
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ayokdicoba.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger