Headlines News :
Home » , , » Wisata Religi ke Makam Sunan Muria

Wisata Religi ke Makam Sunan Muria

Written By Ayok dicoba on Monday, November 14, 2016 | 10:55 AM



Wisata Religi ke Makam Sunan Muria




Saya punya ketertarikan khusus pada wisata religi. Sudah mengunjungi beberapa makam dan Masjid bernilai sejarah tapi baru sempat menuliskannya beberapa saja. Seperti ke Makam Prabu Hariang Kancana atau Sunan Panjalu,  ke Goa Pamijahan, Kompleks Makan Kesultanan Bima, Petilasan Nyiroro Kidul, dan Makam Sunan Kudus.  Begitu pun setelah mengunjungi Makam Sunan Kudus  saya  punya nazar berziarah pada kesembilan makam Wali Songo.  Pada kunjungan berikut ke Kota Jenang, saya mendapat kesempatan menambah satu lagi, kali ini ke makam Sunan Muria yang terletak di lereng gunung Muria atau di Puncak Colo. Beliau adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh dan bernama  asli Raden Umar Said.



Jalan ke Makam Sunan Muria di Gunung Muria

Memang tidak sulit mencapai lokasi pemakaman yang berada di sekitar kawasan destinasi Wisata Colo itu. Dari kota Kudus lurus saja jalannya menyisir punggung Muria. Untuk yang akan naik kendaraan umum bisa naik dari Terminal Kudus.  Jalannya lebar dan beraspal mulus. Sepertinya pemerintah daerah Jawa Tengah serius menggarap lokasi makam ini sebagai destinasi wisata  ziarah Jawa Tengah.  Sekalipun jalannya berkontur, barisan rumah penduduk , diselingi oleh kebun dan sawah yang hijau, membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Kadang juga terlihat aktivitas penduduk di sawah atau di kebun. Pohon lengkeng dan petai sedang berbuah.

Jarak makam Sunan Muria di Gunung Muria ini dengan ke kota Kudus hanya sekitar 19 KM dengan waktu tempuh 2 jam berkendaraan roda empat. Di ujung perjalanan kita akan bertemu dengan gerbang retribusi. Harga  tiket masuk Rp2.000 per orang dan kendaraan roda empat 10. 000. Sungguh sangat terjangkau. Tersedia lahan parkir cukup luas. Lokasi makam sesungguhnya masih berjarak sekitar 2 kilometer dari pintu masuk. Untuk mencapai tempat peristirahatan terakhir dari Putra  Sunan Kalijaga bersama  Dewi Saroh binti Maulana Ishak ini, tersedia dua pilihan: Berjalan kaki dengan manjat tangga atau naik ojek dengan ongkos Rp. 10. 000 perorang. Turis manja tentu memilih naik ojek.


Jalanan menyusurui punggung Muria
Naik Ojek Menuju Lokasi

Bagusnya transportasi ojek sudah dikelola secara baik dan bahkan pengendaranya memakai seragam khusus  warna ungu.  Tapi ingat lah bahwa naik ojek menuju Makam Kangjeng Sunan Muria perlu sedikit keberanian. Disamping motornya memang berjenis sport, maklum Honda Megapro,   jalan ke arah puncak sedikit menantang. Mengecil, terjal, berkelok-kelok dengan jurang curam di sebelah kiri. Belum lagi abang ojeknya yang merasa  akrab dengan medan dan menganggap ia seperti di arena  balap. Sekalipun saya menghibur diri dengan memandang langit  biru di atas dan pepohonan  hijau di samping, tak urung beberapa kali saya menepuk bahunya  agar memanfaatkan rem. Bahkan suami saya sempat memperingatkan dari belakang agar saya berpegangan lebih kencang.

Sementara jantung berdebar-debar  saya masih sempat  memikirkan apa yang berada dalam pikiran Raden Umar Said atau yang dikenal sebagai Sunan Muria saat memutuskan mendirikan pesanggrahan di tempat ini. Kemudian  menjadikannya basis penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Jangankan di masa lalu  yang pastinya tempat ini masih hutan belantara lebat, sat ini pun lokasinya relatif terpencil.

Atau mungkin kah  seperti yang diceritakan dalam sejarah bahwa Raden Umar Said lebih suka hidup di tempat terpencil dibanding tempat ramai? Di tempat seperti ini ia lebih leluasa mendalami ilmu agama,  mengajarkan kepada penduduk, bahkan juga mencontohkan bagaimana cara bercocok tanam yang baik. Mengingat kondisi sekitaran Gunung Muria yang subur mestinya sejak dulu penduduknya hidup makmur.

Selang 10 menit kemudia saya kembali bernapas lega. Di Pangkalan Ojek Muria 2 ini sudah banyak peziarah. Sebagian mereka duduk-duduk  menunggu rekan  yang belum naik. Sebagian lagi antri menunggu ojek pulang. Dan saya  juga tak mau ketinggalan duduk di atas bangku-bangku bambu yang disediakan.  Melepas pandang  ke bawah, mengikuti alur indah dari jalanan beraspal tempat kedatangan saya tadi.

Dari view point ini kita perlu berjalan kaki sedikit lagi. Untung  jalannya sudah rata. Seorang  wanita yang sepertinya berusia lebih muda dari saya berjalan sambil di papah suaminya. Tampak wajahnya menahan sakit saat melangkah. Mungkin lututnya bermasalah.  Sementara yang lain dengan wajah-wajah tekun dan kusuk, meniti tapak dengan hening. Membuat udara yang sudah sejuk lebih dingin untuk saya.

Setelah melewati warung-warung dan tempat peristirahatan sederhana yang disediakan penduduk bagi pengunjung,  kita akan tiba di sebuah anak tangga yang berfungsi sebagai jalan. Di kiri kanannya terdapat toko dan warung yang lebih tertata. Menjual aneka pernik souvenir, baju, dan makanan.  Temboknya dicat hijau dan kuning yang menimbulkan kesan ceria.

Dari bawah tangga ini belok ke kanan. Ada tulisan dan panah menuju ke arah makam. Di sini sendal pengunjung harus dilepas, dimasukkan ke dalam kantong dan dibawa masuk ke dalam. Jika lupa membawa kantong plastik, tak perlu kuatir,  ada yang menjual kok .Disini juga para peziarah mengambil wudhu terlebih dahulu. Sebelum mengikuti yang lain di jalur antri saya berhenti sejenak untuk membaca pengumuman di dinding. Papan putih itu berisi tata tertib ziarah di makam Kanjeng Sunan Muria.


Tata tertib ziarah di makam Raden Umar Said Kanjeng Sunan Muria

1. Para tamu dimohon agar berperilaku dan berbusana sopan.
2. Melepas dan membungkus sandal atau sepatu demi kerapihan dan kebersihan serta keamanan.
3. Ketua rombongan atau Panitia mendaftar kepada petugas pendaftar.
4. Penyampaian amanat kepada petugas penerima amanat.

Para tamu dilarang:

1. Makan, minum, merokok di sepanjang jalur antri masuk lokasi makam.
2. Duduk-duduk atau tiduran di sepanjang jalur antri masuk.
3. Menggunakan pengeras suara di lokasi makam.
4. Membawa benda benda berbahaya atau mudah terbakar

Para tamu dibolehkan :

1. Berziarah masuk ke dalam cungkup makam Sunan Muria hanya pada hari: Kamis Wage dan Kamis Legi buka pada jam 06.00 pagi sampai dengan pukul 24.00 malam. Jumat Kliwon dan Jumat Pahing buka jam 06.00 sampai jam 04.00 sore. Selain hari-hari tersebut sejarah dilakukan diluar makam inti.
2. Minta bantuan pengurus makam untuk memimpin tahlil atau berdoa dan lain-lain.
3. Membantu perawatan atau pengelola makam Sunan Muria dengan memasukkan amal atau sumbangan ke dalam kotak amal yang tersedia. Untuk sumbangan atau hal-hal khusus agar menghubungi petugas amanat.
4. Bermalam maksimal dua hari atau malam dengan menyerahkan kartu identitas ke kantor atau petugas keamanan.
5. Minta informasi di sekretariat Yayasan masjid dan makam Sunan Muria untuk hal-hal yang belum tercantum diatas.

Jalur antri ini beratap dengan taman asri di kiri dan kanannya.

Sampai di persinggahan pertama kita akan bersuara dengan cungkup berukiran Jawa. Tidak begitu jelas peruntukan cungkup ini. Mungkin untuk tahlilan sebab ada pengeras suara di dinding. Setelah cukup ini kita akan bersua dengan pintu yang akan membawa ke makam inti. Di dinding terdapat tulisan dengan huruf besar: Berdoa atau memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari pelataran cungkup sebelum masuk makam inti kita menuruni beberapa buah anak tangga. Gerbang bergaya candi seperti di Masjid Kudus. Tapi tidak berwarna merah melainkan abu-abu seperti warna semen biasa. Saya langsung berkecil hati membaca pengumuman pada sepotong papan bahwa dilarang mengambil foto dan membuat video. Tapi tidak putus asa dan sering melihat foto Makam Sunan Muria  di internet,  saya menghampiri seorang Bapak Penjaga dan meminta izin  akan mengambil foto. Mungkin melihat wajah saya yang memelas Bapak itu  mengangguk: ” Boleh asal jangan berlebihan. Jangan pula mengganggu yang sedang beribadah”.  Tentu saja saya langsung mengangguk dengan rasa terima kasih.


Jalur antri yang panjang

Sesaat sebelum masuk ke makam inti
Suasana di dalam membuat saya terpesona. Dibawah cungkup berukiran Jawa, ditengahnya terletak makam Sunan Muria berkelambu putih. Para peziarah duduk bersim[uh mengelilingi. Lantunan doa membuat saya kehilangan minat mengambil foto pada akhirnya. Tapi sebagai bukti bahwa saya sudah sampai ke sana,  ke titik pertemuan terdekat dengan Sunan Muria,  terpaksa mengangkat kamera juga. Menjepret beberapa kali lalu memasukannya ke dalam ransel. Yang membuat sungkan juga adalah bunyi shutter camera. Setelah itu  ikut hanyut menikmati suasana bersama para peziarah lainnya.


Jalan Keluar

Hampir 1 jam mengikuti kekhusukan para berziarah, akhirnya saya pamit pada Kanjeng Sunan untuk kembali ke Kudus. Seolah beliau menjawab salam saya, ada perasaan haru saat beranjak meninggalkan tempat itu. Saya kembali menyusuri loron. Rupanya lorong ini memutar dan saya kembali ke teras pintu masuk  tadi. Namun ini di sebelah bawah. Tak jauh terdapat beberapa pundan batu yang di atasnya berserakan keping-keping  uang logam. Mungkin itu adalah sedekah para peziarah. Ada pula gentong peninggalan Sunan sebagai sumber air yang dipercaya berkhasiat. Mampu mengobati berbagai penyakit. Disediakan gelas- gelas plastik bagi mereka yang ingin meminumnya.

Dari sini kita kembali bersua dengan toko oleh-oleh. Ke sebelah kirinya merupakan  masuk ke Masjid Sunan Muria.

Biasanya kawasan  ziarah dipenuhi para pengemis.  Alhamdulillah di kompleks Makam Sunan Muria di Gunung Muria ini tidak ada yang seperti itu. Disini serba teratur. Kalau ingin bersedekah sudah ada tempatnya. Begitu pula dengan lokasi tempat jualan sudah teratur dan di tembok rapi.Tidak perlu ada pedagang asongan yang menyodorkan dagangan ke sana- ke mari.



Buah Parjito dan Mitos di belakangnya



 

Yang menarik dan bisa  dijadikan oleh-oleh dari tempat ini adalah buah Parjito. Semacam buni berwarna merah muda dam cenderung ungu  mengikuti tingkat kematangan. Buahnya bergerombol di tangkai-tangkai Merah Jambu. Saya membeli setangkai dengan harga Rp.5000 hanya demi mencicipi rasanya. Ternyata sedikit manis, asam dan cenderung sepat. Begitu menempel di lidah memory rasa langsung membongkar pengalaman masa kecil, ke kebun belakang rumah teman bermain, suatu sore di tepi sawah . Ternyata hebat nian tabungan kenangan yang disimpan oleh syaraf pengecap saya.  Iya di masa kecil  sering mengudap buah ini saat bermain dengan teman-teman, sampai-sampai meninggalkan warna ungu di mulut selama beberapa hari.

Dan kehadiran buah Parjito  di Gunung Muria dilengkapi mitos. Ibu hamil yang mengkonsumsi buah parjito akan melahirkan anak-anak  berwajah cantik  dan ganteng dengan kulit halus dan mulus. Yang belum mempunyai bila mengkonsumsi buah parjito dipercaya akan segera mendapat momongan.

Legenda kesaktian buah parjito  berawal  bahwa tiap hamil  istri Sunan Muria mengidam buah ini. Dengan suka rela Kanjeng Sunan mencari buah tersebut. Ternyata anak-anak  yang lahir kemudian berwajah cantik dan ganteng. Karena itulah masyarakat meyakini saat hamil bila mengkonsumsi parjito anak mereka  pun akan ganteng dan cantik seperti anak-anak Sunan Muria.


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ayokdicoba.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger